Welcome To The 1st Pakin Forum in Indonesian
« Confucian Meditation »

Welcome Guest. Please Login or Register.
May 26, 2013, 9:26am




Welcome To The 1st Pakin Forum in Indonesian :: Seputar Khonghucu :: Diskusi :: Confucian Meditation
   [Search This Thread] [Share Topic] [Print]
 AuthorTopic: Confucian Meditation (Read 721 times)
yunghauw
Chuby
*
member is offline





Joined: Sept 2007
Gender: Male
Posts: 55
Karma: 1
 Confucian Meditation
« Thread Started on Jun 3, 2008, 11:04am »

Para Dq sekalian,

Adakah yang punya bahan2 atau kebetulan tahu menahu tentang meditasi secara Konfusiani? Saya coba untuk cari di web tetapi memang susah didapatkan, terutama yang menyangkut metode meditasinya sendiri.

Meditasi Konfusiani sendiri lain dengan meditasi dalam agama Buddha atau Tao, tidak bertujuan untuk mengosongkan pikiran atau mencapai pencerahan (satori) melainkan untuk meningkatkan kepekaan akan pengetahuan. Menurut aliran XinXue dari Wang Yangming, penelitian hakekat tiap perkara harus dimulai dengan mempelajari hati nurani masing-masing.

Kalau ada yang punya bahan2 atau pengetahuan tentang tradisi konfusiani ini sudilah kiranya berbagi di sini ... Thx ;D
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
yunghauw
Chuby
*
member is offline





Joined: Sept 2007
Gender: Male
Posts: 55
Karma: 1
 Re: Confucian Meditation
« Reply #1 on Jun 3, 2008, 11:05am »

Dari beberapa sumber, tampaknya meditasi konfusiani ini didasarkan pada Ajaran Besar bab utama:

from the Great Learning
The Way of learning to be great consists in manifesting the clear character, loving the people, and abiding in the highest good.
Only after knowing what to abide in can one be calm.
Only after having been calm can one be tranquil.
Only after having achieved tranquillity can one have peaceful repose.
Only after having peaceful repose can one begin to deliberate.
Only after deliberation can the end be attained.
Things have their roots and their branches.
Affairs have their beginnings and their ends.
To know what is first and what is last will lead one near the Way.


Link to Post - Back to Top  IP: Logged
yunghauw
Chuby
*
member is offline





Joined: Sept 2007
Gender: Male
Posts: 55
Karma: 1
 Re: Confucian Meditation
« Reply #2 on Jun 3, 2008, 11:08am »

tulisan dari http://family.jrank.org:

Confucian Meditation and Family Integration

The Confucian transformation model (Chung 1992a, 2001) starts with individual meditation; goes through personal enhancement, self-discipline, personality integrity, family integration, and state governance; and reaches the excellence of universal commonwealth. Individual meditation starts with learning to rest the energy (chu chu), in order to be stabilized (ting), be still and calm (ching), reach peace (an), and be mindful (li). A mindful energy is ready to learn the truth and reveal the virtue (te) (Confucius 1971; Liu, K. 1985). An example of Confucian meditative qigong is sitting still to free the ego and get in touch with the real self. It aims to internalize and calm the energy (qi) to calm the mind, body, and spirit. It aims to reach a peaceful state so that the practitioner becomes a thoughtful person towards the self and others. It is a process of mind, body, and spiritual training with the aim of regaining control of the self/mind and preparing for further training and development for Tien jen unification (micro and macro self-unification).

Confucians called this meditation Chou Won. Chou means sit. Won means to forget (the self). It is a process of synthesizing with Tao by "letting go and allowing God to work," similar to Christian concepts. It is an essential means of detaching the ego and reaching mental freedom. It is important because it teaches self-awareness, self-enhancement, self-discipline, and self-actualization, as well as how to find the truth and create social change. This is a cornerstone of Confucian transformation technology.

These mental processes aim to revitalize the internal virtue (te梞oral consciousness through mindfulness or Tao's image) that leads to the insight of real self and awareness of universal energy interconnection. This meditation is training the individual to become a highly self-disciplined sage who integrates various social developmental strategies for large-scale social applications. This simple meditation method aims to integrate mind, body, and spirit for holistic healing with three main functional goals: disease prevention, healing, and human capacity development. Historically, it serves as an empowerment tool for the Confucians and their family members by teaching them stress management, personal enhancement, family integration, and career development.

Link to Post - Back to Top  IP: Logged
yunghauw
Chuby
*
member is offline





Joined: Sept 2007
Gender: Male
Posts: 55
Karma: 1
 Re: Confucian Meditation
« Reply #3 on Jul 3, 2008, 12:49pm »

Pas browsing2 tentang topik ini, dapet artikel menarik dari Journal of Chinese Philosophy. Semoga terjemahan saya gak ngawur-ngawur amat ;D

Sebuah Tafsiran Qigong atas Confucianism

Diterjemahkan dari: A Qigong Interpretation of Confucianism
Oleh Ni Peimin

Journal of Chinese Philosophy V. 23:1 (1996.3) pp. 79 - 97
Copyright 1996 by Dialogue Publishing Company, Honolulu, Hawaii, USA

* qigong (氣功): secara harfiah diterjemahkan sebagai latihan pernafasan

Bukan sesuatu yang asing untuk mendengar Daoist Qigong (Daojia gong -道家功) dan Buddhist Qigong (Fojia gong -佛家功), tetapi kita jarang mendengar tentang Confucianist Qigong (Rujia gong). Namun menurut Yan Xin, seorang grand master qigong dari China, Rujia seharusnya dimengerti sebagai suatu system qigong (Rujia gong). Setelah merenungkan secara hati-hati, penulis mendapatkan bahwa tafsiran akan Confucianism dari sudut pandang qigong ini sangat sarat dengan ilham-ilham baru untuk mempelajari Confucianism itu sendiri. Dalam tulisan ini, penulis pertama-tama memperkenalkan tafsiran ini sebagai pengertian baru baik tentang Confucianism maupun tentang qigong dan mengutip beberapa text Konfusiani untuk mendukung tafsiran tersebut. Kemudian penulis akan menunjukkan beberapa manfaat dari tafsiran tersebut dengan membandingkannya dengan beberapa bacaan Konfusiani yang lain.

Yan Xin adalah seorang master qigong yang sangat terkenal di China. Belakangan mulai terkenal luas juga di Amerika. Beribu-ribu orang telah menyaksikan kekuatannya yang legendaries. Penulis sendiri telah mengikuti beberapa seminarnya, dan dapat bersaksi bahwa ia telah mendapat manfaat dari kekuatan qigong Master Yan Xin. Mulai dari hari pertama mengikuti seminar, ketergantungan penulis kepada rokok yang telah berjalan sekitar dua puluh tahun hilang begitu saja. Penulis berhenti merokok tanpa bersusah payah sama sekali. Para peserta seminar yang lain mengalami manfaat yang berbeda-beda pula.

I.


Hubungan utama antara qigong dan Rujia, menurut Master Yan Xin, adalah moralitas. Master Yan Xin berulang kali menekankan bahwa moralitas adalah sumber utama, akar, atau teknik dasar dari kekuatan qigong. Anggota baru kelas qigong Master Yan Xin sering kali terkejut dan terheran-heran dengan kenyataan bahwa selama pelajaran berlangsung, waktu yang dipakai oleh Master Yan Xin untuk berbicara tentang moralitas biasanya lebih lama daripada yang ia pakai untuk mengajarkan sikap badan dan pengendalian pernapasan. Suatu kali, ketika ditanya tentang bagaimana untuk mengalahkan rasa takut, ia menjawab “Berbaktilah kepada orang tuamu!”. Di sini berbakti kepada orang tua tidak diajarkan sebagai ajaran moral seperti biasanya, tetapi sebagai teknik untuk mengatasi rasa takut. Master Yan menjelaskan “Tidak ada satu metode yang pasti untuk qigong, sepuluh ribu metode datang dari sumber yang sama: yang pada akhirnya adalah moralitas (Fa wudingfa, wanfa guizong, yide weiben -法無定法,萬法歸宗,以德為本)”.

Tafsiran ini memperluas pengertian umum baik untuk Confucianism maupun untuk qigong sendiri. Pertama, ia menganjurkan bahwa Confucianism bukan hanya teori, filsafat moral dan social humanistic, bahkan bukan hanya ajaran tentang etika hidup dan jalan untuk membangun keteraturan masyarakat. Confucianism adalah juga merupakan suatu praktek yang akan memperkuat para praktisionernya.

Dua puluh tiga tahun yang lalu Herbert Fingarette memprotes kecenderungan untuk menganggap Confucianism hanya sebagai proyek intelektual. Ia menulis: “Lunyu selama ini diterima, oleh sebagian besar orang, sebagai ajaran samawi yang bersifat humanis atau sebagai suatu ajaran yang sejajar dengan paham rasional Plato. Memang, ajaran dalam Lunyu sering kali dianggap sebagai lompatan besar dalam hal penolakan yang tegas terhadap takhayul dan ketergantungan kepada kekuatan gaib”. Semua hal yang tidak sesuai dengan pengertian ini dtanggapi dengan “simpatik” sebagai sisa-sisa takhayul jaman kuno yang tidak berarti dan tidak sah, karenanya perlu ditafsirkan ulang secara rasional. Kaum terpelajar, yang memandang ajaran KongZi dengan cara ini, menurut Fingarette, termasuk beberapa nama besar dalam bidang kebudayaan Cina.

Fingarette sendiri telah berpaling kepada sisi yang lebih praktis dari Confucianism dan mengajak untuk memperhatikan “kekuatan magis” dalam pelaksanaan ritual. Sekarang, keadaan telah jauh membaik, karena usaha banyak pelajar dalam bidang ini. Kini telah menjadi semacam kesepakatan bahwa Confucianism, dan secara umum hampir seluruh filsafat Cina, tidak memisahkan teori dari praktek. Banyak pelajar telah mengkhususkan diri dalam sisi praktis Confucianism. Sebagai contoh, Rodney Taylor berpendapat bahwa Confucianism mengajarkan manusia untuk berkembang ke arah Tian, dan praktek Confucianism adalah suatu proses transformasi religius. Robert Eno menggolongkan Confucianism sebagai “suatu pola perilaku pribadi”, dan ciri khas dari pola ini adalah ritualisasi dari perilaku pribadi. Para bijak Confucianism dipandang sebagai seorang master dalam “pelaksanaan tarian ritual”, tarian ritual yang dimaksud memilki “efek magis”, “kekuatan untuk menciptakan keteraturan dalam masyarakat dan kebijaksanaan dalam diri pribadi”. Beberapa akademis China, seperti Zhang Liwen, Ruo Guojie, dan Zhang Rongming lebih jauh lagi dalam hal ini. Mereka membaca kitab-kitab Confucianism dari perspektif qigong dan menyediakan bukti-bukti tekstual untuk menunjukkan bahwa para penganut Confucianism menghubungkan pembinaan diri mereka dengan qigong, baik dalam teori maupun praktek. Mereka mendapatkan bahwa para penganut Confucianism tersebut tidak hanya memiliki pandangan yang sama dengan para master qigong, mereka sendiri telah memasukkan nilai-nilai Confuciansm ke dalam praktek qigong mereka. Hasil kerja mereka merupakan sumbangsih yang berarti bagi pembelajaran Confucianism. Tetapi sepengetahuan penulis yang terbatas, tidak ada yang pernah secara harafiah menganggap Confucianusm sebagai sebuah system qigong seperti yang dilakukan oleh Master Yan Xin.
Kedua, tafsiran qigong atas Confucianism juga membawa kita ke sebuah pengertian baru tentang qigong sendiri. Seringkali, qigong dianggap sebagai sejenis kegiatan yang tujuan utamanya adalah kesehatan fisik seseorang, sejenis teknik pernapasan yang mendatangkan kekuatan khusus, seperti memecahkan setumpuk bata dengan tangan kosong, atau kemampuan untuk menyembuhkan tanpa menyentuh si pasien. Benar, moralitas sering ditekankan oleh para master qigong. Tetapi biasanya hal tersebut dianggap untuk menjaga supaya para pelaku qigong memakai kemampuannya untuk hal-hal yang benar. Dalam pengertian umum, tidak ada hubungan langsung antara memiliki kekuatan dan moralitas. Sebaliknya, karena memang orang yang tidak bermoral juga bisa memiliki kekuatan, moralitas ditekankan agar kekuatan tersebut tidak dipergunakan secara keliru. Kini bila diasumsikan bahwa moralitas adalah teknik dasar untuk mendapatkan kekuatan qigong, maka tujuan qigong bukan sekedar membawa kebaikan fisik bagi seseorang di tingkat pribadi. Tujuan qigong adalah serupa dengan tujuan terbaik Confucianism: kesehatan yang utuh, fisik dan mental, bagi setiap orang, dan keselarasan seluruh semesta.

II.


Tentu saja, Confucianism dianggap sebagai suatu system qigong bukan hanya karena ajaran moralnya, sebab jika demikian kita akan mempunyai “Platonic qigong”, “Kantian qigong”, dll, dan istilah qigong juga akan kehilangan maknanya. Intinya adalah bahwa Confucianism tidak menganggap moralitas sekedar sebagai bahan spekulasi intelektual, dan juga tidak mengajurkan moralitas sebagai sesuatu yang sekedar mengatur perilaku. Dalam Confucianism, moralitas adalah jalan untuk perombakan atau pengembangan, dan lebih penting lagi, berhubungan dengan konsep qi. Walaupun pada kenyataannya konsep qi tidak banyak dipakai oleh KongZi sendiri, tetapi konsep ini ada dalam ajarannya, dan menjadi semakin jelas seiring dengan perkembangan Confucianism dalam sejarah.

Di antara empat kesempatan munculnya kata qi dalam Lunyu, salah satunya jelas berdekatan makna dengan kata qi dalam qigong. KongZi berkata:
“Ada tiga hal yang sangat diperhatikan oleh seorang Junzi. Pada waktu muda, di kala semangat (qi) masih berkobar-kobar, ia berhati-hati dalam masalah asmara; setelah cukup dewasa di kala badan sedang kuat-kuatnya dan semangat (qi) membaja, ia menjaga diri terhadap perselisihan; dan setelah tua, di kala semangat (qi) sudah lemah, ia berhati-hati terhadap ketamakan.”
Di sini nasihat KongZi tentang apa yang harus dijaga berhubungan dengan kondisi semangat (arti harafiah dalam ayat tersebut: qi darah). Kata “darah” menunjukkan bahwa KongZi berbicara dalam konteks fisik, tetapi hubungan antara qi fisik dengan pembinaan mental jelas ditunjukkan dalam ayat tersebut. Mengingat ayat ini adalah bagian dari keseluruhan ajaran KongZi, nasihat lain dari Nabi juga dapat dipandang sebagai instruksi yang mengarah kepada pengaturan dan pengembangan qi. KongZi memberitahu murid-muridnya bukan hanya apa yang harus dicegah, melainkan juga apa yang harus dicapai dan dicita-citakan. Maka ajarannya tentang ren, perikemanusiaan dan peri cinta kasih, tentang metode untuk mencapai ren – shu, tepaserira, dan ajarannya tentang li, kesusilaan dan perilaku ritual, dan ajarannya tentang pentingnya music, puisi, dll. Praktek Confucianism yang sistematis membuat seseorang mencapai tingkat di mana ia tidak bimbang, cemas, maupun takut, sebuah keadaan dalam mana qi menjadi teratur dengan baik.

Benar bahwa munculnya konsep qi dalam ajaran KongZi jarang dan tidak jelas. Begitu jarang hingga menurut Arthur Waley, kutipan di atas bukan merupakan bukti bahwa KongZi memiliki konsep tentang qi. Tetapi, dari sudut pandang sejarah, kita harus terbuka bahwa KongZi sendiri mewakili awal, dan bukan kematangan Rujia gong.

Dibanding KongZi, MengZi jauh lebih jelas dalam merumuskan bahwa praktek ajaran Rujia adalah membina ‘semangat (qi) yang menggelora’ -- haoran zhiqi. Qi, menurut MengZi, berhubungan dengan yi, kebenaran. Misalnya, seperti dijelaskan oleh D. C. Lau, keberanian tidak hanya keadaan di mana tensi dalam tubuh meninggi saat mana kecepatan bernapas meningkat dan aktivitas jantung meningkat. Bagi MengZi keberanian sejati hanya dapat dipertahankan dengan tetap berpihak kepada kebenaran secara moral. Ketika dipelihara dengan layak, qi ini dapat berkembang begitu besar memenuhi ruang diantara langit dan bumi. MengZi menegaskan bahwa qi ini dikendalikan oleh hati, oleh zhi (niat). Cara untuk memelihara qi ini adalah “jiyi”, yang berarti menumpuk perbuatan baik dan mungkin juga membawa sifat asli yang baik ketika seseorang melakukan meditasi atau mawas diri.

Dalam XunZi, kita mendapatkan bahwa konsep qi lebih jauh lagi dipaparkan. Ia adalah suatu entitas abstract yang berada dalam seluruh semesta, dalam semua benda. Jalan untuk menjadi seorang junzi adalah dengan mengatur dan mengembangkan qi seseorang. Xunzi dengan jelas menunjukkan bahwa tujuan dari mengatur qi (zhiqi) meliputi dua hal: memelihara kehidupan (yangsheng) dan memelihara hati/pikiran (yangxin). Untuk mengatur qi dan memelihara hati/pikiran “tidak ada jalan yang lebih baik daripada kesusilaan, tidak ada kunci yang lebih penting dari menemukan guru yang tepat, dan tidak ada yang lebih efektif dati ketelatenan”.

Ouyang Xiu memperluas penerapan konsep qi ke masyarakat. Ia menunjukkan bahwa qi masyarakat perlu dipelihara. Seperti seorang tabib merawat pasiennya dengan memelihara qi-nya, kesusilaan akan membangkitkan semangan keharmonisan dan cinta yang universal. Dalam wacana qigong, hal ini lebih dari sekedar analogi. Hal ini adalah gambaran harafiah Rujia gong dalam dimensi social dan politiknya.

Konsep qi bahkan lebih sentral lagi dalam karya-karya Zhu Xi. Zhu Xi menghubungkan kualitas moral seseorang langsung dengan kemurnian qi-nya – semakin murni semakin baik. Nafsu dan kesenangan material membuat qi tercemar, sehingga hal-hal tersebut perlu dihilangkan. Ia lebih jauh menyarankan “setengah hari duduk hening dan setengah hari membaca” sebagai metode untuk belajar. Kita tahu bahwa duduk hening mungkin adalah jalan paling umum dalam berlatih qigong.

Wang Yangming juga menyarankan duduk hening. Ia berpendapat bahwa dengan melakukan aktivitas dalam keheningan, seseorang dapat menyelami hatinya sehingga nafsu, keinginan akan kesenangan material dan ketenaran dapat disingkirkan.

Garis besar dari gambaran kasar di atas mestinya memungkinkan kita untuk menyimpulkan bahwa Rujia gong memang ada – ia adalah ajaran tentang bagaimana membina qi, baik dalam lingkup pribadi maupun masyarakat. Rujia gong memiliki beberapa sifat yang unik, dibandingkan dengan qigong jenis lain. Rujia gong lebih menekankan kepada perombakan social, kepada keharmonisan universal di dunia, sebagai bagian dari tujuannya, walaupun titik awalnya adalah juga pembinaan diri. Metode Rujia gong terutama lebih melalui pendidikan moral dan music, perenungan pribadi, jiyi – menumpuk kebaikan, dan pelaksanaan ritual, daripada melalui pengendalian nafas dan pemakaian kekuatan fisik.

III.


Kini penulis akan mengacu pada karya-karya Confucianism modern untuk mendapatkan dasar-dasar pendukung dan untuk menunjukkan, dalam beberapa kasus, bagaimana pengertian qigong dapat membuat pngertian yang lebih baik.

Penulis mulai dengan Fingarette, yang telah mempelopori untuk menaruh perhatian kepada sisi praktis Confucianism. Dalam bukunya : The Secular as Sacred, Fingarette mengutip beberapa ayat dalam Kitab Suci Confucianism yang mengindikasikan adanya “kekuatan magis”, “kekuatan orang tertentu untuk mencapai keinginannya secara langsung dan tanpa susah payah” “tanpa kekuatan kasar”, “melalui upacara, sikap dan doa”, melalui kesusilaan, li. Ia percaya bahwa KongZi menyadari, dan berusaha mengajarkan bahwa kekuatan sejati yang dimiliki oleh manusia memiliki sifat-sifat magis, dan kekuatan tersebut dapat dibangkitkan dengan pelaksanaan ritual. Bersifat magis karena “kekuatan kasar tampak nyata”, “kekuatan yang besar dan suci yang timbul dari li tidak kelihatan dan tidak nyata”
Pengertian Fingarette atas “kekuatan magis” dapat mendukung tafsiran qigong, walaupun pengertian itu sendiri bukan tafsiran secara qigong. Tafsiran qigong percaya bahwa pelaksanaan ritual sebagai bagian dari praktek umum Confucianism, memang membawa kekuatan magis. Tetapi tafsiran ini menekankan ketergantungan kepada perkembangan moral dari si pelaku upacara, dan tidak menganggap kekuatan tersebut sebagai otomatis hasil dari tata upacara ritualnya sendiri.

Fingarette mengerti bahwa kekuatan itu sendiri tidak bersifat mekanik, dan ia mengatakan bahwa pada si pelaku ritual harus ada kehadiran yang tulus. Tetapi ia tidak mengenali kekuatan tersebut sebagai kekuatan moral, dan kehadiran yang diperlukan adalah kehadiran dari kebajikan moral. Fingarette terlalu banyak memberi bobot kepada tata upacara ritualnya sendiri, bukan kepada kualitas internal – ketulusan hati. Ini membuat tafsirannya akan penekanan KongZi terhadap pengembangan moral pribadi menjadi sesuatu seperti mempelajari suatu keahlian atau membiasakan suatu kebiasaan, yang memerlukan kegiatan meniru suatu pola perilaku daripada transformasi yang sesungguhnya dari orang tersebut.

Pikirkan, misalnya, salah satu ayat dalam Lunyu yang dikutip oleh Fingarette untuk menunjukkan daya magis li: “Apa yang dilakukannya (Raja Suci Shun)? Tidak lebih hanya dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat menghadap selatan menerima mentri-mentrinya.” Di sini bersikap penuh hormat dan menghadap ke selatan oleh Fingarette diartikan sebagai “sikap upacara ritual seorang raja”. Tetapi misalnya bukan Raja Suci Shun yang mengambil sikap tersebut; tetapi si tiran Jie, apakah tetap ada efek magis yang sama? Tentu tidak. KongZi menganggap moralitas sebagai zhi (kualitas internal) dan li sebagai wen (bentuk luar), Ia berkata: “Seorang Junzi memegang kebenaran sebagai pokok pendiriannya, kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya (junzi yi yiweizhi, li yixingzhi -君子義以為質,禮以行之)”. Menghadap ke selatan adalah aspek upacara, yang mana adalah sisi wen; tetapi zhi – kekuatan moral dibalik wen tersebut – tidak dapat diabaikan.

Alasan Fingarette menemui masalah ini, menurut pendapat penulis, ada dua hal. Yang pertama kurangnya gagasan bahwa kebajikan moral adalah hal yang sejatinya memberi jiwa pada pelaksanaan upacara. Kedua, ia takut bila kualitas moral ditekankan sebagai sesuatu yang sifatnya internal dan pelaksanaannya eksternal, ia akan terjebak dalam dualism pikiran-tubuh, yang mana adalah pandangan barat, dan bukan pandangan CIna. Karena ia tidak memiliki konsep alternative untuk menggantikan dualism pikiran-tubuh, ia memperlakukan jen sebagai “daya terarah yang bekerja dalam ruang dan waktu publik”. Pendekatan fenomenalis ini mungkin adalah wacana simpatiknya terhadap Confucianism, tetapi tetap saja masih bukan pandangan CIna. Benar, filsafat CIna tidak memiliki dualism pikiran-tubuh, tetapi dikotomi wen-zhi dan xing-shen (bentuk-ruh) ada dalam filsafat CIna dan jelas digunakan oleh KongZi. Dalam istilah qigong, kita memiliki gagasan bahwa kekuatan qi secara langsung bertumpu pada kebajikan moral, dan qi ditampilkan ketika seseorang mempraktekkan li. Maka dapat dikatakan bahwa li adalah pola nyata yang menampilkan qi dan qi sendiri adalah pola nyata dari jen. Dengan kata lain, jen membangkitkan qi, dan qi adalah nyawa dari li.

Kini penulis beralih ke issue lain yang didiskusikan oleh A. C. Graham. Dalam bukunya Disputers of the Tao, Graham memberitahu kita bahwa jawaban atas pertanyaan “Mengapa KongZi dan semua filsuf Cina tidak menekankan pilihan moral dan tidak membuat pembedaan antara kenyataan dan nilai” dapat ditemukan dalam “asumsi bangsa Cina adalah bahwa aksi dimulai dari motif yang spontan dan sebelum bertanya ‘Apa yang seharusnya saya lakukan?’ Saya telah tertarik ke satu arah atau yang lain” Apa yang saya pilih untuk makan ditentukan oleh selera saya, dan “selera berubah sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman” masalah memilih makanan berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang; demikian juga pertanyaan “Apa yang seharusnya saya lakukan” diganti oleh pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa yang akan saya lakukan bila saya sepenuhnya sadar akan semua hal yang relevan terhadap masalah yang saya hadapi?” Bila dengan sepenuhnya sadar akan segala hal yang relevan dengan suatu masalah seseorang akan melakukan X, dan kemauannya cukup keras untuk melakukan X, maka orang tersebut tidak akan melakukan hal lain. Yang harus dilakukan adalah agar seseorang mencapai kesadaran penuh dan kemauan keras ini.

Ini merupakan sebuah gagasan yang mencerahkan. Pendapat ini menyatakan bahwa, bagi Rujia, moralitas bukanlah masalah pilihan dan tujuan Rujia adalah merombak pribadi dan masyarakat, untuk meningkatkan pribadi sampai ke tingkat di mana seseorang tidak membuat pilihan yang buruk, dan untuk menciptakan masyarakat yang bebas dari penyakit-penyakit masyarakat. Untuk memakai analogi dari Graham, seperti menyesuaikan qi tubuh dengan qi udara.

Meskipun analogi tersebut menganjurkan penyesuaian qi, sayangnya point yang dibuat oleh Graham terkurangi hanya menjadi penyesuaian pengertian atau pengetahuan seseorang saja, bukan penyesuaian atau pengembangan diri secara keseluruhan. Graham menulis: “Manusia berinteraksi secara spontan dengan hal-hal sekelilingnya tetapi masing-masing beraksi berbeda-beda tergantung kepada pengertian masing-masing terhadap hal-hal tersebut”. Ia menyimpulkan bahwa “mengetahui apa yang harus dilakukan berarti mengetahui apa yang seseorang akan tergerak untuk melakukan bila ia memiliki pengetahuan penuh tentang bagaimana hubungan semua benda dan urusan seperti yang dimiliki oleh para bijak”

Di mana Graham berbicara tentang “mengetahui fakta seperti para bijak”, teori qigong akan memakai “berada dalam kondisi qi keseluruhan seperti para bijak”. Yang terakhir ini tidak mengabaikan yang pertama, karena berada dalam kondisi qi seperti itu berarti berada dalam posisi memiliki pengetahuan juga. Tetapi kondisi qi tersebut tidak terbatas hanya pada “memiliki pengetahuan”. KongZi berkata: “Yang bijaksana tidak dirundung bimbang”. Tetapi ia juga berkata “Yang berperi cinta kasih tidak dirundung kecemasan. Yang berani tidak dirundung ketakutan”. Hanya memiliki pengetahuan tidaklah cukup baik. Jika seseorang jahat, memiliki pengetahuan tentang semua fakta yang relevan juga akan membuat orang tersebut tidak bimbang untuk melakukan kejahatan. Graham tidak bisa menjelaskan bahwa kenyataan yang diketahui para bijak akan membuat seseorang merespon hal-hal di sekitarnya secara moral.
KongZi berkata bahwa pada umur empat puluh tahun, beliau telah mencapai tingkat di mana tidak ada keraguan. Tetapi beliau tidak berhenti membina diri hingga usia tujuh puluh tahun di mana beliau dapat mengikuti hati tanpa melanggar apa yang benar. Itu berarti disamping membina diri sampai tingkat mengetahui semua fakta yang relevan, seseorang juga harus lebih jauh mentransformasi diri menjadi tulus dan berperi cinta kasih. Sifat-sifat ini (tulus dan berperi cinta kasih) akan mempengaruhi apa yang akan dilakukan seseorang meskipun semua fakta yang relevan telah diketahui. Pendapat qigong jelas sesuai dengan hal ini. Tafsiran qigong memandang Confucianism sebagai transformasi pribadi seseorang secara menyeluruh, dan bukan hanya menjadikan seseorang serba tahu.

Pertanyaan tentang apa yang seharusnya dilakukan dalam suatu situasi menjadi pertanyaan apa yang akan diperbuat bila seseorang memiliki qi. Setelah berlatih qigong dan meningkatkan qi-nya ke suatu tingkat tertentu, seseorang secara alamiah akan tahu apa hal yang benar untuk dilakukan. Seseorang akan tahu bukan karena ia berada dalam keadaan mengetahui semua fakta yang relevan seperti para bijak, melainkan karena ia berada dalam kondisi keberadaan yang sama dengan para bijak. Lebih jauh lagi, seseorang melakukan hal yang benar, bukan karena ia meyakinkan dirinya bahwa ia seharusnya berlaku demikian, tetapi karena ia memang terdorong untuk berlaku demikian dan bahkan merasakan kebahagiaan yang besar dalam melakukan hal yang benar tersebut. Ini adalah ideal yang ingin dicapai oleh KongZi “Yang mengerti belum sebanding dengan yang menyukai, yang menyukai belum sebanding dengan yang merasakan kebahagiaan di dalamnya”.

Ada beberapa ayat mistis dalam kitab-kitab utama Confucianism yang memerlukan wacana qigong. Salah satunya adalah “Wanwu jiebei yuwo” - 萬物皆備於我. Diterjemahkan sebagai “Berlaksa benda tersedia lengkap di dalam diriku”, dan ditafsirkan oleh David Hall dan Roger Ames sebagai pernyataan dari seorang “person-in-context”, -- seseorang yang telah mengarahkan dirinya sehingga mengenali hubungan yang saling terkait dan saling memperkuat antara pembinaan diri, pembinaan masyarakat, dan akhirnya pembinaan dunia.” Dalam menafsirkan secara demikian, mereka tampaknya berhati-hati terhadap peringatan James Legge yang menyatakan bahwa ayat tersebut akan menjadi “memalukan” apabila artinya “diperluas lebih lanjut”.

Tetapi bila penafsiran di atas akurat, maka kita harus mengatakan bahwa MengZi tidak secara akurat menyatakan pendapatnya, karena arti harfiah dari kata-kata tersebut mengarah pada sesuatu yang sangat berbeda. Ayat tersebut mengandung arti yang secara lebih langsung diyatakan dalam terjemahan oleh Graham: “berlaksa benda ada dalam penggunaanku” Penulis menduga alasan Hall dan Ames tidak mau membaca ayat tersebut seperti Graham adalah dikarenakan terjemahan Graham tersbut seakan bertentangan dengan semangat Confucianism.

Terjemahan Graham tersebut terdengar seperti pernyataan yang egoistis (semua benda harus melayani kepentingan saya) atau sekedar anggapan yang tidak realistis terhadap situasi seseorang (semua hal dapat saya gunakan atau semua hal dapat saya manipulasi sesuai dengan kemauan saya) – yang memang akan menjadi memalukan. Sekarang, dengan tafsiran dari qigong atas Confucianism, pertimbangan masalah memalukan ini menjadi tidak perlu. Ayat tersebut menggambarkan pengalaman dan kekuatan dari seseorang yang berkebajikan moral, seorang yang memiliki “semangat yang menggelora” (haoran zhiqi). Zhang Rongming mendapatkan dari literature klasik bahwa banyak penganut Confucianism dinasti Song dan Ming mengalami pengalaman bahwa ketika melakukan meditasi yang dalam dan tenang, seseorang dapat mencapai sebuah visi bahwa seluruh dunia terkandung di dalam dirinya. Ia juga mengingatkan bahwa para Daoist dan Buddhist juga memberikan pernyataan yang sama. Tentunya pengalaman dan kekuatan yang dimaksudkan masih berifat mistis, sebagian karena hanya dapat dicapai melalui latihan, melalui metode yang diajarkan oleh para guru, dan bukan dari penangkapan indrawi yang biasa, pemikiran yang rasional, atau latihan fisik, dan sebagian lagi karena ilmu pengetahuan modern kita masih belum dapat menjelaskan fenomena tersebut. Namun bila ada yang diajarkan oleh filsafat kepada kita, pastilah bahwa kita harus menyadari keterbatasan dari pengertian dan pengetahuan kita akan alam semesta ini.

Beberapa ayat dalam ZhongYong bahkan tampak lebih misterius lagi tanpa kerangka pikir qigong. Dalam bab 23, kita menemukan “ Jalan suci seorang yang telah mencapai puncak iman (ketulusan) itu menjadikannya dapat mengetahui sebenlum terjadi”, “maka yang beroleh puncak iman (ketulusan) itu akan seperti malaikat”. Mengacu ayat-ayat ini, James Legge memberikan komentar, “Seluruh bab ini ngawur dan memberikan sifat yang berlebih-lebihan terhadap ajaran akan ‘Ketulusan’/’Iman’. Kemampuan untuk mengetahui lebih dahulu yang dianggap dimiliki oleh para bijak hanyalah hasil dari mengira-ngira dengan sarana pertanda-pertanda, sihir, dan hal-hal sesat yang lain.” Tetapi melihat dari sudut pandang qigong, suatu sudut pandang yang diperluas oleh pengalaman berada dalam kondisi qigong atau menyaksikan orang-orang dalam kondisi qigong, seseorang tidak lagi terbatas oleh gagasan-gagasan ilmu pengetahuan saat ini. Dengan pengetahuan bahwa banyak kejadian nyata di mana perkiraan yang akurat banyak dibuat oleh para master qigong, kita mustinya berpikiran lebih terbuka daripada James Legge dalam hal ini. Para bijak mungkin memang memiliki kemampuan untuk mengetahui sebelum kejadian, dan kemampuan tersebut mungkin memang berhubungan dengan iman.

IV.


Yang telah dikemukakan oleh penulis menunjukkan bahwa ada dua jalur penafsiran di sini. Di satu sisi, suatu tafsiran yang segar dan mendalam tentang Confucianism, di sisi lain adalah pengertian yang mencerahkan tentang qigong. Penafsiran qigong atas Confucianism memberikan penalaran atas beberapa kutipan-kutipan dalam kitab-kitab Confucian yang biasanya memicu kontroversi berlarut-larut di antara para siswa Confucianism sendiri.

Tafsiran tersebut juga menunjukkan bahwa Confucianism adalah kesatuan yang utuh antara teori dan praktek, antara mental dan fisik, antara nilai-nilai dan kenyataan. Tanpa mengabaikan nilai teoritis Confucianism, tafsiran ini menyingkap potensi kekuatan nyata Confucianism dalam praktek. Kenyataan bahwa tafsiran ini diberikan oleh seorang grand master qigong yang terkemuka di dunia memberikan bobot yang lebih. Bahwa sang master qigong bersaksi bahwa kekuatannya yang legendaris berakar pada moralitas, dan bahwa ajaran moral Confucianism dapat membimbing seseorang untuk mencapai kekuatan tersebut, tentunya memberikan efek yang berbeda dari mendengar hal tersebut dinyatakan oleh seorang akademis yang tidak melakukan praktek qigong.

Penulis tidak bermaksud bahwa para siswa sebaiknya melulu mendengarkan pendapat para master qigong. Melainkan bahwa pengetahuan dan pengertian khusus yang dimiliki oleh para master qigong dapat memberikan manfaat bagi pembelajaran Confucianism. Namun kebanyakan filsafat tradisional Cina tidaklah pernah bersifat teori murni atau semata-mata spekulasi intelektual, dan para filsuf tradisional Cina kebanyakan merupakan pelaku dari filosofinya. Visi teoritical, pengalaman, dan kekuatan dari pihak qigong mengingatkan kepada para pelajar akademis bahwa riset terhadap suatu filsafat harus dilakukan dalam hubungannya dengan praktek dari filsafat itu sendiri. Tanpa mengembangkan qi-nya sendiri, seseorang tidak akan dapat benar-benar mengerti filosofi yang dibuat dengan visi yang hanya bisa diperoleh dalam suatu level qi tertentu (seperti yang dicapai oleh para bijaksana).

Sementara itu, melalui penafsiran Rujia yang baru ini, kita juga melihat dimensi yang sama sekali baru akan implikasi moral dan social dari qigong. Qigong bukan lagi hanya cara gaib untuk penyembuhan dan mendapatkan kekuatan atau bakat pribadi. Ia terkait erat dengan kebaikan pribadi dan masyarakat.
Ketika Master Yan menjelaskan tujuan dari qigong, ia kerap kali mengutip ideal Rujia “Ketika Jalan Suci dilaksanakan, When the Grand course was pursued, a public and common spirit ruled all under the sky “ (dadao zhiyingye, tianxia weigong). Ini sepenuhnya sejalan dengan visi MengZi bahwa “semangat yang menggelora” dapat “memenuhi ruang antara langit dan bumi”. Dalam tafsiran ini, urutan pembinaan diri Rujia yang disimpulkan dalam Ajaran Besar (Da Xue) – meneliti hakekat tiap perkara, mencukupkan pengetahuan, mengimankan tekad, membina diri, membereskan rumah tangga, mengatur negeri, membawa damai di dunia (gewu, zhizhi, chengyi, xiushen, qijia, zhiguo, pingtianxia) – adalah juga urutan pembinaan diri dalam qigong; atau, dengan cara lain, bahwa urutan pembinaan diri dengan qigong seharusnya juga tidak boleh kurang dari urutan pembinaan diri Rujia. Sebenarnya “perdamaian dunia” dalam benak Master Yan lebih dari sekedar harmoni antar seluruh umat manusia, melainkan keselarasan di antara “berlaksa benda” termasuk binatang dan lingkunagn secara total. Penulis berpendapat bahwa Master Yan telah mengajarkan kepada para siswa akademis sebuah pelajaran yang bagus – pencarian kita tidak boleh hanya terbatas pada ranah teori saja.

Grand Valley State University, Allendale
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
zhugeliang
Chuby
*
member is offline





Joined: Sept 2008
Gender: Male
Posts: 14
Karma: 0
 Re: Confucian Meditation
« Reply #4 on Dec 16, 2008, 9:55pm »

Yg saya tahu, meditasi dalam Khonghucu adalah salah satu cara untuk membina diri, seperti yg dikatakan dalam DaXue "Untuk membina diri lebih dahulu meluruskan hati; Diri yang diliputi geram & marah, tidak dapat berbuat lurus, yg diliputi takut & khawatir tdk dpt berbuat lurus, yg diliputi suka & gemar tidak dpt berbuat lurus, yg diliputi sedih & sesal tidak dpt berbuat lurus."
Meditasi biasanya dilakukan dengan 静坐 duduk diam (rileks) menenangkan pikiran, melepaskan semua ego dan hawa nafsu, sampai mencapai ketenangan batin & pikiran yg mendalam. Disini kita akan merasa seperti, jendela hati yg tadinya penuh dengan debu/kotoran/awan hitam menjadi jernih kembali. Sehingga kita dapat melihat segala sesuatu dg jernih, dpt melihat diri kita & segala hal yg sejatinya & sedalam-dalamnya.

Ini ada artikel yg cukup menarik mengenati Confucian Meditation, alamatnya disini :
http://terpconnect.umd.edu/~tkang/welcome_files/meditation.htm

Man's mind consists of Dao-mind and human-mind, which are all given by God. Everything being perfect and perfect in Dao-mind, nothing needs to depend on outside oneself or search for anything. Dao-mind is like a mirror which reflects God's love and wisdom.

Human-mind begins to develop with the birth in society the desires to know, to do and to possess. The undesirable knowledge, actions and possessions cloud Dao-mind.

The Quiet-sitting is like brightening up a mirror. The cleaner the mirror, the clearer it reflects the original nature within oneself. The Quiet-sitting is also a process to recover the lost Dao-mind and the power of self-healing.

Dao cannot be obtained through teaching and learning, but can be obtained only through experience. One once experiences Dao through the Quiet-sitting in the holy rite, one finds the status of mind of Harmony and Equilibrium in the original mind by yin-yang mysticism. Through the Quiet-sitting one can enter the Universal Super-Consciousness beyond you and me, good and bad, time and space, return to the original nature and become oneself to unite with God.

Dao in the original nature helps one become manifested without any display, change without any movement, and accomplish one's ends without any effort. Thus with the Quiet-sitting one can heal by oneself any sufferings resulted from abusing nature, e.g. overeating, smoking, drinking, and drugs (copyrighted).

Counseling for self-healing through the Quiet-sitting, and lectures on the I Ching are offered by Dr. Kang, Center for Confucian Science. E-mail me!





The State of the Mind

Before arise the stirrings of pleasure, anger, sorrow, or joy,

The mind may be said to be in the state of equilibrium.

When those feelings have been stirred,

And they act in their due degree,

There ensues what may be called the state of harmony.

This equilibrium is the great root

From which grow all the human actions in the world,

And this harmony is the universal path

Which they all should pursue.

Let the states of equilibrium and harmony exist in perfection,

And a happy order will prevail throughout the universe,

And all things will be nourished.
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
   [Search This Thread] [Share Topic] [Print]

Click Here To Make This Board Ad-Free


This Board Hosted For FREE By ProBoards
Get Your Own Free Message Boards & Free Forums!
Terms of Service | Privacy Policy | Notice | FTC Disclosure | Report Abuse | Mobile