Mohon bantuannya.. « Thread Started on Feb 27, 2008, 8:35pm »
Halo teman-teman.. perkenalkan nama saya Syarif, mahasiswa S1 HI Unpar.. saya sedang dalam proses menyelesaikan skripsi berjudul "Pengaruh Konfusianisme terhadap Pertumbuhan Ekonomi Cina era Deng Xiaoping". Ketertarikan saya terhadap Konfusianisme diawali dari kesenangan saya terhadap filsafat barat. Setelah cukup banyak mendalami filsafat barat, saya memang mengagumi kemampuan berpikir filsuf-filsuf barat yang reflektif dan mengakar. Namun, kenyataan bahwa saya hidup di dunia timur membuat saya merasa bahwa tidak semua pemikiran barat relevan diterapkan di lingkungan tempat saya berada. Kemudian saya mencoba memutuskan membaca beberapa aliran pemikiran timur seperti konfusianisme, hinduisme, dan buddhisme. Dari situ saya mendapati bahwa terdapat keistimewaan tersendiri dalam pemikiran timur yang tidak dipunyai barat. Timur tidak terlalu fokus pada penggunaan bahasa, melainkan hanya memberikan gagasan-gagasan sederhana, untuk kemudian membiarkan pengikutnya berimajinasi. Hal tersebut malah menarik, mengingat bahasa seringkali justru mengurangi makna. Atas dasar itu, saya menjadi sangat tertarik dengan Konfusianisme. Karena dari beberapa buku yang saya baca (sebagai pemula), saya mendapati bahwa Konfusius tidak melebih-lebihkan penggunaan bahasa. Konfusius hanya berkata sedikit, agar kemudian pengikutnya sendiri yang menginterpretasi sesuai imajinasi dan kontekstualitas dengan jamannya. Atas dasar itu pula, saya ingin bertanya pada teman-teman di forum ini, sebelumnya, saya mohon maaf apabila pertanyaan-pertanyaan saya ada yang kurang berkenan: 1. Bagaimana pendapat teman-teman terhadap perbedaan pandangan yang menyebutkan Konfusianisme sebagai agama sekaligus filsafat? 2. Adakah buku atau referensi tentang Konfusianisme yang bisa saya baca sebagai pemula? 3. Bagaimana keberadaan Konfusianisme di era pemerintahan Deng Xiaoping, setelah mendapat tekanan di era Mao Zedong pada Revolusi Kebudayaan? Atas segala masukan dan jawabannya, saya ucapkan terima kasih banyak, dan sekali lagi mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Salam,
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #1 on Feb 29, 2008, 11:56am »
Halo Syarif
Wahh, kamu jago epistemologi dong ya kalo gitu? Boleh tuh kapan2 ajarin kita2 juga tentang filsafat barat hehehe
Memang ada perbedaan gaya penulisan antara para filsuf kuno di barat dan di timur. Para filsuf barat 'menyampaikan ide' mereka kepada masyarakat dalam karya-karyanya. Agar ide ini tidak bias, tentunya diperlukan penyampaian bahasa dengan gaya essay yang detail dan konsisten. Argumen yang disampaikan harus memiliki penalaran yang jelas, kalau perlu sampai membuat metodologi untuk membuktikan validitas penalaran ini. Sebaliknya tulisan para filsuf timur lebih cenderung 'memancing pemikiran' pembacanya, sehingga gaya bahasa yang dipakai juga lebih samar. Kesamaran bahasa ini jelas disengaja, dan juga dikagumi. Contoh paling ekstrem salah satunya adalah kitab Dao De Jing, buku tipis (kurang lebih berisi 5000 kata) yang luar biasa ini menjadi acuan untuk banyak sekali hal dari mulai filsafat hidup sampai metode pernapasan seni bela diri.
Saya coba jawab pertanyaannya, seperti biasa kalo ada yang keliru ato tidak sependapat tolong dikoreksi
1. Sebenarnya dikotomi ini muncul dari pengaruh metodologi pemikiran barat yang selalu berusaha 'meng-klasifikasi-kan' semua hal. Masalah klasifikasi tentunya erat sekali hubungannya dengan definisi. Masalahnya Confucianism mungkin lain sekali dengan apa yang diketahui oleh si pembuat definisi 'agama' dan 'filsafat', jadi ketika mau diklasifikasikan jadi agak membingungkan. Walau banyak definisi (yang sebenarnya juga nggak ada standardnya apa itu agama dan apa itu filsafat, semua orang punya batasan sendiri), secara umum Confucianism tidak ada kendala ketika dimasukkan ke kategori filsafat. Masalahnya adalah Confucianism memiliki juga aspek-aspek yang ada dalam definisi umum tentang agama, misalnya: memiliki ritual. Tetapi bagi kami pengikutnya hal ini tidak menjadi masalah, Karena Confucianism punya definisi sendiri tentang agama (seperti tercantum dalam ChungYung bab utama):
" Firman Tian itulah dinamai Watak Sejati, Hidup mengikuti Watak Sejati itulah dinamai Menempuh Jalan Suci, Bimbingan menempuh Jalan Suci itulah dinamai Agama"
2. Dulu ada terjemahan karya Prof. Dr. Fung Yulan, judulnya Sejarah Singkat Filsafat Cina (Brief History of Chinese Philosophy) saya lupa penerbitnya. Cukup bagus karena membahas latar belakang filsafat Cina terlebih dahulu sebelum masuk ke aliran2 filsafat tertentu. Selain itu mungkin buku Alam Pikiran Cina yang disebut oleh saudara Sugiaman, saya sendiri belum pernah baca. Tetapi saya rasa sekarang banyak banget kok referensi tentang Confucianism ini, baik yang berupa buku maupun softcopy di web, salah satunya coba The Ethic of Confucius di www.sacred-texts.com/cfu/
3. Pemerintah Cina dibawah Deng Xiaoping lebih toleran terhadap Confucianism, bahkan belakangan mulai muncul kembali sekolah2 tinggi Confucianism di Cina. Memang pada saat revolusi kebudayaan Confucianism ini adalah salah satu kambing hitam yang dituduh membuat Cina ketinggalan dari negara-negara lain. Walau tidak lagi dominan dalam kehidupan kenegaraan seperti pada jaman sebelum keruntuhan dinasti Qing, tetapi saya sendiri yakin bahwa gagasan-gagasan yang ada dalam Confucianism (dan aliran-aliran lain, terutama Daoism) tetap kuat mengakar dalam kehidupan bangsa Cina. Jadi secara tidak langsung berpengaruh juga terhadap baik buruk sepak terjang Cina di jaman sekarang.
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #2 on Mar 2, 2008, 7:14pm »
Halo juga Syarif Kalo boleh saya tahu Unpar itu universitas Parahiyangan, Universitas Paramadina Jakarta atau par-par yang lain ? Pertanyaan-pertanyaan anda sudah dijawab dengan baik oleh sdr Yunghauw, jadi saya cuma mau tanya-tanya saja. Apa sich tujuan dari skripsi anda yang berjudul "Pengaruh Konfusianisme terhadap Pertumbuhan Ekonomi Cina era Deng Xiaoping" ? (Jangan dijawab untuk mendapatkan gelar sarjana lho, itu sih banyolan lawas ) Maksud saya, di bab I (atau pendahuluan) dalam skripsi anda tentu ada bagian Tujuan yakni sesuatu yang hendak anda capai dengan karya anda ini. Sebuah skripsi dianggap baik jika bisa memenuhi tujuan yang dimaksud ini.
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #3 on Mar 17, 2008, 5:42am »
UNPAR itu Universitas Parahyangan, Bandung.. Klo saya memilih topik tersebut untuk sekedar mendapatkan gelar sarjana, tentu saja saya tidak akan memilih topik itu. Topik tersebut terbilang tidak mudah untuk kami mahasiswa HI yang biasa berkutat di seputar isu high politics seperti keamanan, ekonomi, dan politik itu sendiri. Saya menganggap bahwa keseluruhan isu tersebut mungkin saja didasari oleh pola pikir dan kebudayaan masyarakatnya. Saya memilih Konfusianisme juga bukan karena saya menguasainya, tapi justru karena saya awam, dan saya berharap bisa memahaminya seiring dengan perjalanan saya dalam menulis skripsi ini. Terima kasih banyak juga atas jawaban dari sdr. Yunghaw. =)
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #4 on Mar 19, 2008, 6:34pm »
Kalo melihat dari judulnya, saya merekomendasikan buku 'Negara dan Masyarakat, berkaca dari pengalaman Republik Rakyat Cina' karya I. Wibowo, diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2000. Saya kira buku itu ada di perpustakaan Unpar.
Btw, saya ingin tahu apa yang dimaksud dengan 'isu high politik ?'. Setahu saya pemimpin-pemimpin RRT, Jepang, Korea, Vietnam dan Singapura walaupun tidak terang-terangan mengakui, tapi seringkali mengutip sabda-sabda Kong Zi dalam urusan pemerintahan mereka. Jadi ajaran Kong Zi itu tidak berkutat pada teori keagamaan belaka melainkan lebih pada urusan tata negara. Apakah ini tidak termasuk 'high politik' ?
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #5 on Mar 24, 2008, 6:14pm »
Hello all, ini ada tanggapan dari Pak RT. (forward e-mail) untuk Syarif, selamat bergabung dan mudah2an bisa membantu.
Benar, text pustaka Konfusian sangat pendek memberi ruang buat pembacanya untuk berimajinasi. Tetapi itu bukan “main reason” Kong Fuzi, disingkat Kongzi. Begitulah kondisi saat itu dalam bahasa aslinya bahasa Ya dialek Hao. Nampaknya KFZ sendiri menguasai berberapa dialek. Kosa kata ketika itu sangat terbatas sebut saja kata Li bisa berarti norma,ritus bisa juga protokol atau tata kerama. Dalam zaman Zhou Gong hampir lima abad sebelum KFZ misalnya dalam kata Zhou Li, kata Li juga diartikan agama. Ketika itu masing-masing daerah mempunyai aksara masing-masing sehingga ketika Zhou Dunyi (abad ke 3 SM) harus mengkompilasi dfia harus bekerja keras. Naskah yang kita baca bukan aslinya tetapi hasil saduran kedalam bahasa Mandarin yang kemudian dipermodern dari waktu ke waktu. Beruntung setengah abad sebelumnya Kaisar Qin Shi Huangdi mempersatukan aksara China menjadi bahasa yang sekarang. Toh generasi kelima KFZ yakni Kong Anguo masih menyimpan naskah asli dari buyutnya, selamat dari pemusnahan Kaisar Qinshi Huang.
Mengenai masalah agama dan filsafat kita harus hati-hati. Ketika kita baca buku Fung Yulan Chinese Philosophy bahwa agama China sangat philosophical, kita membaca naskah yang diterjemahkan Dr F Bode dalam bahasa Inggris. Fung menggunakan kata Daode artinya ethics suatu cabang ilmu filsafat (zhe xue) dan kata agama yang digunakan Fung, adalah Zong Jiao artinya ajaran leluhur kami. Setiap agama mempunyai batasan yang berbeda satu sama lain, berbeda secara fundamental. Yahudi menyebut agama sebagai emuna yakni Yang kami yakini, Islam menyebut agama sebagai Ad Din artinya hukum sedang Kristen menyebut agama dengan religio artinya relasi manusia dengan Tuhan Dalam faham agama-agama Ibrahimi, Allah adalah sesuatu yang berbeda sama sekali dengan ciptaannya Tanzih, dia tidak terpengaruh oleh makhluknya, mandiri ghina dan al-fard, Dia adalah Al-Shamad ( yang berdiri sendiri), entitas yang tidak berubah (‘ayn Tsâbitah), baqâ dan ân al dâ’ im.
Nah Ru Jiao (agama KFZ) tidak semua dari hal diatas. Jika dalam Teologi Skolastika, Veritas atau the truth, al Haqq tidak berubah dalam Ru Jiao ada interaksi antara Kosmos Atas (langit) dengan kosmos Manusia (Ren) dalam terminologi disebut Theologu yf Change, bandingkan dengan Theology of Process dari Whitehead. Rujiao beranggapan tugas manusia adalah mengamalkan fithrahnya (bekal atau kondisi asali, al Awwal), Xing. Hidup sesuai dan mengamalkan fitrah itu lah beragama jadi agama tidak saja kata benda (nomen) tetapi juga kata kerja (verbum). Itu sebabnya maka Daode adalah esensi beragama bukan ibadah. Dalam konteks inilah Fung Yu Lan menyatakan abahwa agama China itu philosophical.
Mao Zedong lebih Konfusian dibanding Deng Xiaoping. Dia seorang Konfusian tanpa Kong Fuzi. Mao banyak sekali mensitir ajaran KFZ misalnya Cerita Xia Yu memindahkan aliran air, cerita memindahkan gunung semua itu adalah kisah-kisah Konfusian. Lalu mengapa dia anti KFZ, benar, dia sangat muak dengan para scholar (Junzi Ru). KFZ nuda menyaksikan ayahnya dipaksa menjadi tentara pada keluarga Konfusian untuk membayar hutangnya. Dia kehilangan ladangnya pada kaum Konfusian yang ternyata kaum borjuis. Sejak Qing (suku Manzhu) menjadi penguasa, mereka memanjakan kaum scholar Konfusian dan memberi pelbagai keistimewaan seperti punya ladang luas, tidak usaha bayar pakaj, berhak mempunyai budak dsb. Mereka ikut tes bukan untuk mengamalkan ajaran Konfusian tetapi untuk memperoleh segala kemudahan tadi. Mereka menjadi kaum munafik yang menyebalkan. Sementara rakyat karena kesulitan ekonomi menjadi semakin mendekatkan diri kepada Tuhan atau segala macam Dewa, akibatnya rakyat semakin miskin karena menjadi semakin superstisius Mao yakin ajaran Konfusian harus diberantas habis. Gerakan membasmi Konfusianisme saat itu sudah benar. Tetapi esensi dari Konfusianisme itulah yang diamalkan Mao misalnya pengawal merah itu seperti kaum Scholar zaman Konfusian,
Hasilnya ya sekarang ini generasi Konfusian baru (Xiantai Xin ruxue) lebih rasional dan tidak melulu rajin sembahyang sambil menginjak orang miskin. Lebih mengahargai hak asasi manusia dan kebebasan individu. Sedang Deng Xiao Ping seorang phragmatis. Sewaktu kecil mengikuti pendidikan Kristen bukan Konfusian. Ia dikenal karena memberi peluang kepada pelbagai agama khususnya Kristen,Islam dan Buddhisme. Di China ajaran KFZ diklasifikasikan sebagai agama Dao atau tepatnya Rudao. Sekarang sudah ada 6 juta kader Konfusian dan masih akan terus meningkat.
Ya, Konfusius juga seorang negarawan Cuyus Regio Cuyus Rex karena itu dia meyakini untuk merubah masyarakat pertama-tama merubah tokohnya atau raja dengan segala kaum elitenya. Cuius regio, ilius et religio. KFZ berkeyakinan sage from within and kingliness from without. KFZ memang less dogmatic . Itu sebabnya dia juga dianggap negarawan dengan segala isme untuk memimpin rakyat dan negara
Salam, Pak RT.
Harapan saya, Pak RT. bisa ikutan, agar dapat menanggapi pertanyaan2 yang ada.
Sedikit mengenai tata-cara penulisan jaman dahulu (WenYenWen), kenapa kelihatannya seperti disingkat tapi artinya mendalam, kata orang, karena dulu kertas masih mahal, demi untuk penghematan, oleh karenanya disingkat (tapi dapat merepresentasikan maksud dari sang penulis), selain kertas mereka juga menggunakan lempengan bambu, karena sulit untuk mengukirnya maka muncullah ide WenYenWen ini. kira2 begitulah alasannya, itulah yang saya pernah dengar, kalau ada alasan lain boleh juga diberi masukan.
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #7 on Mar 27, 2008, 8:23pm »
waaaah..saya baru login lagi dan ternyata banyak bgt pendapat ya.. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada semua yang udah ngasih comment.. (bahasa saya jadi lebih santai, karena sadar akan sambutan hangat di milis ini hehe..) Saya sekarang sudah masuk bab 4 atau bab analisis keterkaitan antara Konfusianisme dengan Pertumbuhan Ekonomi Cina era Deng Xiaoping. Melihat informasi dari Pak RT, saya jadi ciut juga nih karena ternyata Deng kalah Konfusian ketimbang Mao. Tapi saya pikir, jawaban dari pertanyaan sosial adalah selalu 'mungkin', tidak ada kepastian absolut. Tapi untuk sementara, saya akan mengajukan beberapa argumen keterkaitan yang masih berbau hipotesis, mohon tanggapannya: 1. Pertumbuhan ekonomi Cina tidak lepas dari ajaran Konfusius tentang betapa pentingnya memahami duniawi sepenuhnya. Hal tersebut terlihat dari perkataannya, "Kamu tidak akan memahami kematian, sebelum memahami kehidupan." Artinya, manusia mesti bertindak tanpa harapan. Berbeda dengan agama-agama lainnya (termasuk yang saya anut), yang kebanyakan justru menekankan pada hidup setelah kematian. Perkataan Konfusius tersebut tentunya mendorong masyarakat Cina untuk lebih produktif, dan mencari penghidupan duniawi yang layak. Hipotesis saya kurang lebih mirip dengan analisis Max Weber terhadap kaitan etika Protestan dengan semangat Kapitalisme. 2. Konfusius menganjurkan untuk memiliki teman yang banyak dengan membuka diri. Hal tersebut kurang lebih mirip dengan kebijakan Deng dalam sistem terbukanya. Dengan keterbukaan ala Deng, Cina menjadi "banyak teman" selayaknya yang dianjurkan Konfusius. 3. Anjuran Feodalistik Konfusius kurang lebih cocok bagi situasi dimana Deng berkuasa. Hormat kepada penguasa menurut Konfusius adalah salah satu kunci penting terciptanya masyarakat yang tertib. Dengan dibukanya kembali keran konfusianisme pasca Revolusi Kebudayaan, tentunya ajaran feodalistik untuk menghormati kebijakan penguasa akan kembali masuk ke dalam rakyat Cina era Deng.
Saya masih memikirkan hipotesis-hipotesis lainnya, tapi sementara tiga ini aja ya.. biar tanggapannya bisa nyicil.. Terima kasih banyak sebelumnya..
Re: Mohon bantuannya.. « Reply #8 on Mar 28, 2008, 10:05am »
Quote:
3. Anjuran Feodalistik Konfusius kurang lebih cocok bagi situasi dimana Deng berkuasa. Hormat kepada penguasa menurut Konfusius adalah salah satu kunci penting terciptanya masyarakat yang tertib. Dengan dibukanya kembali keran konfusianisme pasca Revolusi Kebudayaan, tentunya ajaran feodalistik untuk menghormati kebijakan penguasa akan kembali masuk ke dalam rakyat Cina era Deng.
Saya cukup setuju dengan yang satu ini, walaupun musti agak direphrase sih. Konsep kenegaraan Confucius adalah perluasan dari nilai-nilai kekeluargaan, tentu saja dalam konsep ini rakyat sebagai 'anak' punya kewajiban untuk menghormati 'bapak'-nya. Tetapi di sisi lain, sang 'bapak' juga harus melindungi dan mencintai 'anak'-nya.
Saya pikir walau mungkin secara pribadi Mao memang lebih Confucian dari Deng, tetapi jelas Deng punya pandangan yang lebih positif tentang Confucianism sehingga lebih mampu menarik manfaat darinya. Kebijakannya untuk memberikan ruang gerak bagi perkembangan Confucianism memberinya paling tidak dua keuntungan: sebagai promosi untuk meningkatkan citra Cina di dunia luar, dan menumbuhkan kepatuhan dan keharmonisan dalam negri.
Kurang tau juga sebetulnya apa motif Mao untuk membungkam Confucianism, apakah karena dendam pribadi, seperti yang diceritakan oleh Pak RT, atau hasil perhitungan politik yang matang. Mengingat Mao tidak membutuhkan Confucianism untuk mendukung kekuasaannya (rakyat Cina pada jamannya sudah memujanya seperti dewa). Baginya mungkin Confucianism akan lebih bermanfaat sebagai kambing hitam. Saya agak meragukan kalo Mao secara sadar berusaha untuk 'memurnikan' Confucianism
Bagi perkembangan Confucianism sendiri tentunya kebijakan Deng lebih menguntungkan daripada kebijakan Mao.